Carikan tema yang anti mainstream
Ceramah
M
MUSTHOFA AR
8 Mei 2026
5 menit baca
2 views
Tentu, Ibu-ibu sekalian, mari kita simak naskah ceramah berikut yang sedikit berbeda dari biasanya, semoga membawa manfaat dan keceriaan: اَلسَّلَامُ...
Tentu, Ibu-ibu sekalian, mari kita simak naskah ceramah berikut yang sedikit berbeda dari biasanya, semoga membawa manfaat dan keceriaan:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا. (الكهف: 45)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Yang terhormat para alim ulama, para kiai, para ustadz dan ustadzah, tokoh masyarakat yang kami muliakan, khususnya Ibu Hj. [Nama Tokoh Terkemuka], Bapak/Ibu [Nama Tokoh Lain jika ada], serta seluruh hadirin jama'ah pengajian ibu-ibu yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Esa, atas segala nikmat-Nya kita dapat berkumpul di tempat yang penuh berkah ini. Begitu juga shalawat beriring salam kita hadiahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan sahabatnya.
Ibu-ibu yang cantik, yang salehah, apa kabarnya hari ini? Semoga selalu sehat, semangat, dan selalu dalam lindungan Allah ya. Hari ini, kita akan membahas sebuah tema yang mungkin agak nyeleneh, anti mainstream, tapi penting sekali untuk kita renungkan. Biasa kalau pengajian, kita ngomongin soal surga, neraka, tahajud, dhuha, sedekah. Nah, hari ini kita akan coba kupas salah satu "harta karun" tersembunyi dalam diri kita yang sering terlupakan, bahkan sering kita "mainkan" tanpa sadar. Apa itu? Yaitu, tentang "Seni Meracjach (Mengeluh) yang Menggerogoti Keberkahan Hidup Kita."
Nah, loh? Merajuk? Mengeluh? Bukannya itu penyakit? Betul, Bu. Tapi coba kita lihat dari sudut pandang lain. Kadang, tanpa kita sadari, kita ini sering sekali "bermain" dengan keluhan. Mulai dari keluhan soal suami yang pulang malam terus padahal cuma mau ngopi sama kawan, keluhan soal anak yang susah diatur padahal dulu pas bayi ngemilpun susah, sampai keluhan soal tetangga yang masakannya baunya sampai ke rumah kita. Padahal, kalau kita sadari, hidup ini seringkali seperti apa yang Allah firmankan dalam Al-Qur'an surat Al-Kahfi ayat 45 tadi:
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا.
(Artinya: "Dan buatlah perumpamaan bagi mereka (orang mukmin) kehidupan dunia itu seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu karena itu tumbuhlah bermacam-macam tumbuh-tumbuhan di bumi (menjadi subur), kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering kerontang yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.")
Lihat, Bu. Hidup itu kan seperti air yang turun dari langit, menyuburkan tanah, lalu tumbuhlah macam-macam. Tapi lama-lama, ya kering juga, jadi debu yang diterbangkan angin. Cepat sekali perubahannya. Nah, seringkali kita terjebak dalam keluhan ini. Mengeluh soal rezeki yang kurang, mengeluh soal tugas rumah yang banyak, mengeluh soal suami yang pelit (padahal mungkin dia lagi mikir mau beliin Ibu tas baru!).
Coba kita ingat-ingat lagi. Kapan terakhir kali kita benar-benar bersyukur? Ibu pernah dengar cerita tentang seorang Bapak yang kakinya tidak punya jari? Saat ditanya, "Bagaimana rasanya, Pak?" Beliau menjawab, "Alhamdulillah, saya masih punya kaki untuk berdiri." Lalu ada lagi orang yang tidak punya kaki sama sekali. Dia berkata, "Alhamdulillah, saya masih punya tangan untuk bekerja." Dan ada lagi yang tidak punya tangan dan kaki. Dia berkata, "Alhamdulillah, saya masih punya akal untuk berpikir dan lisan untuk berdzikir." Subhanallah!
Pernahkah kita melihat orang yang keluhannya itu lebih berat dari kita, tapi justru dia yang senyumnya paling lebar? Itu namanya *power of syukur*. Kunci keberkahan hidup itu bukan pada banyaknya harta atau tingginya jabatan, tapi pada sejauh mana syukur kita kepada Allah. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengatakan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ. (رواه مسلم)
(Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pandanglah kepada orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia) dan janganlah memandang kepada orang yang berada di atasmu. Yang demikian itu lebih pantas agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang ada padamu.”)
Jadi, kalau Ibu melihat tetangga beli mobil baru, jangan langsung ngeluh, "Ya Allah, kapan aku bisa punya mobil seperti itu?" Coba deh, pandang ke bawah. Masih banyak orang yang naik angkot, bahkan jalan kaki. Nah, kalau kayak gitu, rasa syukur kita jadi bertambah, kan? Daripada ngeluh terus, kan capek ya, Bu. Bikin awet muda malah kalau senyum terus.
Intinya begini, Bu. Keluhan yang berlebihan itu seperti virus yang menyerang hati kita. Pelan-pelan merusak *koneksi* kita sama Allah. Kalau koneksi kita sama Allah sudah putus, ya sudah, hidup terasa hampa. Makanya, mari kita latih diri kita untuk lebih banyak berucap syukur, sekecil apapun nikmat itu. Suami pulang bawa oleh-oleh sepiring gorengan? Syukur! Anak mau makan meskipun cuma nasi putih? Syukur! Punya tetangga yang suka ngopi bareng tetangga lain, bukan ngeluhin utang? Syukurrrr!
Jangan lupa juga, Bu, kalau ada masalah, jangan langsung *nge-gas* sama keluhan. Coba tarik napas dalam-dalam, lalu *ngomong* sama Allah. Curhat sama Allah. "Ya Allah, ini saya ada masalah begini, begini, begini..." Dijamin, Bu, keluhan Ibu akan berubah jadi doa yang ampuh. Karena di tangan Allah lah segala urusan.
Mari kita mulai dari diri sendiri, dari rumah tangga kita. Kurangi drama, perbanyak syukur. Insya Allah, hidup kita akan lebih berkah, lebih bahagia, dan apa yang kita keluhkan itu nanti malah jadi sumber kebahagiaan kita.
Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin. Jadikanlah hati kami hati yang selalu bersyukur, amalkan ilmu yang telah kami dapatkan, dan jauhkanlah kami dari keluh kesah yang tidak berarti. Ya Allah, berikanlah kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan rezeki kepada seluruh ibu-ibu yang hadir di sini.
Terima kasih banyak atas perhatiannya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan atau salah. Semoga kita semua senantiasa dalam rahmat dan ridha Allah.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.